Cara Menghitung IPM

Salah satu alat ukur yang dianggap dapat merefleksikan status pembangunan manusia adalah Human Development Index (HDI) atau disebut pula Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

IPM merupakan suatu indeks komposit yang mencakup tiga bidang pembangunan manusia yang dianggap sangat mendasar yaitu Usia Hidup (longetivity), Pengetahuan (knowledge), dan Standar Hidup Layak (decent living).
  1. Usia Hidup
Pembangunan manusia harus lebih mengupayakan agar penduduk dapat mencapai “usia hidup” yang panjang dan sehat. Sebenarnya banyak indikator yang dapat digunakan untuk mengukur usia hidup tetapi dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara global, UNDP memilih indikator angka harapan hidup waktu lahir (life expectacy at birth) yang biasa dinotasikan dengan eo. Angka kematian bayi (IMR) tidak digunakan untuk keperluan itu karena indikator itu dinilai tidak peka bagi negara-negara industri yang telah maju. Seperti halnya IMR, eo sebenarnya merefleksikan keseluruhan tingkat pembangunan dan bukan hanya bidang kesehatan. Di Indonesia eo dihitung dengan metode tidak langsung. Metode ini menggunakan dua macam data dasar yaitu rata-rata anak yang dilahirkan hidup dan rata-rata anak yang masih hidup.

  1. Pengetahuan
Selain usia hidup, pengetahun juga diakui secara luas sebagai unsur mendasar dari pembangunan manusia. Dengan pertimbangan ketersediaan data, pengetahuan diukur dengan dua indikator yaitu angka melek huruf (Literacy Rate) dan rata-rata lama sekolah (Mean Years School).

  1. Standar Hidup Layak
Selain usia hidup, dan pengetahuan unsur dasar pembangunan manusia yang diakui secara luas adalah standar hidup layak. Banyak indikator alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur unsur ini. Dengan mempertimbangkan ketersediaan data secara internasional UNDP, memilih GDP per kapita riil yang telah disesuaikan (adjusted real GDP per capita) sebagai indikator hidup layak. Berbeda dengan indikator untuk kedua unsur IPM lainnya, indikator standar hidup layak diakui sebagai indikator input, bukan indikator dampak, sehingga sebenarnya kurang sesuai sebagai unsur IPM. Walaupun demikian UNDP tetap mempertahankannya karena indikator lain yang sesuai tidak tersedia secara global. Selain itu, dipertahankannya indikator input juga merupakan argumen bahwa selain usia hidup dan pengetahuan masih banyak variabel input yang pantas diperhitungkan dalam perhitungan IPM. Dilemanya, memasukkan banyak variabel atau indikator akan menyebabkan indikator komposit menjadi tidak sederhana. Dengan alasan itu maka GDP riil perkapita yang telah disesuaikan dianggap mewakili indikator input IPM lainnya.

Konsep Pembangunan Manusia yang dikembangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menetapkan peringkat kinerja pembangunan manusia pada skala 0,0 – 100,0 dengan kategori sebagai berikut :

Tinggi                    :  IPM lebih dari 80,0
Menengah Atas       :  IPM antara 66,0 – 79,9
Menengah Bawah    :  IPM antara 50,0 – 65,9
Rendah                  :  IPM kurang dari 50,0

Sumber Data :
Sumber data penghitungan komponen IPM berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilakukan BPS setiap tahun yang mencakup seluruh Provinsi di Indonesia.

Tahapan Perhitungan IPM akan nampak sbb:
Beberapa tahapan dalam penghitungan IPM dapat dijelaskan sebagai berikut :
-         Tahap pertama penghitungan IPM adalah menghitung indeks masing-masing komponen IPM (Indeks Harapan Hidup = X1, Pengetahuan = X2 dan Standar Hidup Layak = X3)

Indeks (Xi) = (Xi – Xmin)/(Xmaks – Xmin)
Dimana :
Xi            : Indikator komponen pembangunan manusia ke-i, i= 1,2,3
Xmin       : Nilai minimum Xi
Xmaks     : Nilai Maksimum Xi

Tabel 1
Nilai Maksimum dan Nilai Minimum Indikator Komponen IPM


-         Tahapan kedua perhitungan IPM adalah menghitung rata-rata sederhana dari masing-masing indeks Xi dengan rumus:
IPM = {X1 + X2 + X3} / 3
dimana :
X1    = Indeks Angka Harapan Hidup
X2    = 2/3(Indeks Melek Huruf) + 1/3(Indeks Rata-rata Lama Sekolah)
X3    = Indeks Konsumsi perkapita yang disesuaikan
-         Tahap ketiga adalah menghitung Reduksi Shortfall, yang digunakan untuk mengukur kecepatan perkembangan nilai IPM dalam suatu kurun waktu tertentu.

r = { (IPM t+n – IPM t)/(IPM ideal – IPM t) x 100 }1/n
Dimana:
IPMt             = IPM pada tahun t
IPMt+n         = IPM pada tahun t+n
IPM ideal      = 100



Menghitung IPM Desa Karangwangi

Kesehatan
Di Desa Karangwangi, Kecamatan Binong, Kabupaten Subang sama sekali tidak ada kasus kematian ibu hamil, melahirkan, ataupun bayi. Dengan demikian, indeks angka harapan hidup desa tersebut bisa dihitung sebagai berikut:

Indeks angka harapan hidup X1= 85

Pendidikan
Sejak 2007 lalu, program keaksaraan fungsional mulai dilakukan di Kota Subang. Hal ini dilakukan karena rendahnya angka IPM Kabupaten Subang dinilai sangat dipengaruhi oleh masih tingginya angka buta aksara.
Di Desa Karangwangi, persoalan yang sama juga dapat dilihat dari tingginya angka buta aksara pada lansia. Saat ini berbekal dana Angaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), sudah dijalankan program yang mendukung melek aksara.
Dengan kondisi wilayah yang tersebar dengan jarak dusun berjauhan, program tersebut dilakukan dalam bentuk kelompok. Di Dusun Betok saja terdapat tiga kelompok yang masing-masing berisikan sekurang-kurangnya 30 orang.
Ketua Karang Taruna yang turut dilibatkan dalam program tersebut mengatakan bahwa angka buta huruf di kalangan lansia Desa Karangwangi bisa mencapai 100 orang. Lebih jauh ia menambahkan, “Ditambah dengan yang belum terdata, angkanya tentu bisa lebih besar dari itu.”
Dengan demikian bisa ditemukan angka melek huruf dewasa Desa Karangwangi dengan turunan rumus
(ALR-0) / (100-0) = (550 - 0)/(100-0) = 5,5
Indeks angka melek huruf = 55,0
Indeks rata-rata lama sekolah = 59,0
X2      = 2/3(Indeks Melek Huruf) + 1/3(Indeks Rata-rata Lama Sekolah)
= 2/3 (55,0) + 1/3 (59,0)
= 36,6 + 19,6
= 56,2

Perekonomian
Karena keterbatasan data yang dimiliki pemerintah setempat terkait tingkat perekonomian warganya, pendapatan perkapita riil ini tidak dapat dihitung. Selanjutnya, angka yang digunakan adalah GDP index yang didapat Kota Subang pada 2005 lalu, yakni 60,16 (X3).
Dengan demikian indeks pembangunan manusia bisa diperhitungkan sesuai rumusnya.
IPM    = (X1 + X2 + X3) / 3
= (85+56,2+60,16) / 3
= 201,36 /3
= 67,12

Berdasarkan hal ini, indeks pembangunan manusia di Desa Karangwangi dapat digolongkan menengah atas. Selanjutnya sesuai dengan kritik yang bermunculan atas indikator-indikator yang diukur dalam IPM, banyak aspek lain yang nyatanya masih belum diperhitungkan meski ia berdampak langsung bagi pembangunan manusia di wilayah tersebut.
Berbagi kepada teman anda melalui: