PERAN ORANG TUA TERHADAP REMAJA

Pada masa ini anak meninggalkan bangku sekolah dasar dan menempuh pendidikan di jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Masa ini adalah proses transisi menuju kedewasaan. Mereka tidak suka dianggap sebagai anak-anak lagi namun juga kadangkala masih menunjukkan sikap kekanak-kanakannya. Sebagai remaja, mereka sedang mengembangkan jati diri dan melalui proses pencarian identitas diri. Sehubungan dengan itu pula, rasa tanggung jawab dan kemandirian juga mengalami proses pertumbuhan.
Masa praremaja (remaja awal) berlangsung dalam waktu relatif singkat. Orang tua selayaknya membuka kesempatan yang selebar-lebarnya untuk menumbuhkan kemampuan anak mengurus diri sendiri agar kelak anak dapat menjalankan fungsinya sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab.
Pada usia ini pengaruh orang tua secara berangsur mulai berkurang. Anak mulai menyatu pada kelompok teman sebayanya untuk mencapai perkembangan kemandiriannya. Pada masa ini yang menjadi panutan anak bukan lagi orang tua ataupun guru melainkan teman sebaya. Anak juga merasakan tekanan dari teman sebaya (peer pressure) untuk mengadopsi nilai-nilai, kebiasaan, model rambut/pakaian, gaya, dan permainan yang sama dengan teman-teman dalam kelompok. Dengan kata lain, lingkungan pergaulan anak sangat berpengaruh. karena itu, anak perlu dibimbing untuk belajar membedakan dan memilih teman-teman dengan bijak.

Lalu, apa yang harus kita lakukan pada remaja kita?

1. Kenali Teman-Teman Anak Anda
Bagaimana ?
Ingat nama-nama teman anak Anda. Luangkan waktu untuk menyapa dan berdialog ringan dengan teman-teman anak Anda.
Buka pintu rumah Anda untuk kegiatan belajar bersama atau tugas kelompok.
Dorong anak agar bercerita tentang teman-temannya pada saat santai. Jadilah “teman” anak pada saat mendengarkan ceritanya.
Jika Anda mendapati teman dekat anak cenderung memberikan pengaruh buruk pada anak, mulailah berdialog dengan anak. Hindari sikap menghakimi atau teguran keras yang akan menganggu harmonisnya komunikasi Anda dengan anak Anda.

2.Dukung Anak anda untuk Berteman dan Bersosialisasi
Mengapa ?
Dalam tahapan usia ini, teman sebaya akan memberikan pengaruh lebih kuat pada remaja. Sering kali anak pada usia pra remaja memprioritaskan loyalitas pada teman sebaya dibandingkan pada orang tua atau guru.
Namun, iklim keluarga yang sehat akan melindungi remaja dari pengaruh teman sebaya yang tidak sehat.
Remaja yang memiliki keluarga yang harmonis cenderung dapat menghindarkan diri dari pengaruh negatif teman-teman sebayanya.
Dengan mengenali teman-teman anak Anda, Anda dapat membantunya bergaul dengan penuh tanggung jawab dalam proses menuju mandiri.
Berkenalan dengan teman, mengenal kepribadian teman, dan membina hubungan dengan teman merupakan bagian dari proses belajar anak yang sangat terkait dengan kemandirian sosial.
Dukungan orang tua pada anak untuk mencari teman sebanyak-banyaknya tentunya harus diimbangi dengan bimbingan dan perhatian orang tua, mengingat teman sebaya dapat memberikan kontribusi positif namun dapat pula memberikan pengaruh negatif (lihat poin sebelumnya).
Kemampuan membina hubungan dengan teman ini sangat penting baginya dan akan menjadi bekal dan jaminan bagi anak untuk hidup bersosialisasi di masa yang akan datang.
Bagaimana ?
Anjurkan anak untuk mengikuti organisasi atau kegiatan olahraga atau seni di sekolah ataupun di luar sekolah sesuai dengan minat dan bakatnya. Anak akan mendapat kesempatan untuk bertemu dengan teman dengan kesamaan minat.
Anjurkan anak agar bersosialisasi dengan masyarakat yang heterogen.
Ajak anak ke lingkungan baru setiap kali ada kesempatan.

3. Dorong Anak untuk Membuat Jadwal bagi Dirinya Sendiri
Mengapa ?
Remaja perlu bimbingan dalam menjalankan kewajiban dan tugas-tugasnya. Pernyataan yang mengekspresikan rasa tidak bertanggung jawab, misalnya “ibu sih, tidak mengingatkan aku!” atau “Habis bagaimana? Aku lupa!” sering kali keluar sebagai pembelaan diri.
Belajar mengingat kewajiban dan tugas merupakan bagian yang sama pentingnya dengan menjalankannya.
Ajak anak anda membuat jadual sendiri untuk melakukan kewajiban dan tugasnya.
Dengan demikian, dia akan belajar untuk memahami konsekuensi dari tindakannya dan memegang teguh jadwal yang telah ia susun sendiri.
Bagaimana ?
Biarkan anak untuk menentukan sendiri waktu kegiatan dan jam belajarnya. Dengan pertimbangannya.
Ajak anak menulis dan memasang jadual yang telah ia buat di dinding kamarnya.
Diskusikan dengan anak konsekuensi yang akan ia terima jika ia menyalahi jadual.
Tunjukkan kegunaan organizer atau agenda pribadi Anda. Ajak dia memilih agenda yang ia sukai.

4. Beri Kesempatan untuk Berlibur Tanpa Orangtua.
Mengapa ?
Anak akan mendapatkan begitu banyak pengalaman dengan bepergian tanpa orang tua. Pada awalnya mungkin hal ini tidaklah mudah bagi anak maupun orang tua.
Anak mungkin mempunyai keinginan yang besar untuk mencoba, namun juga mempunyai begitu banyak kekhawatiran. Di lain pihak orang tua ingin memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, juga sulit menghilangkan perasaan tidak tega dan sebagainya.
Persiapkan diri anda dan anak sebaik-baiknya agar anak akan mendapat kesempatan yang menyenangkan pada saat pergi tanpa Anda. Kemandirian akan sangat membantu anak sangat membantu anak untuk menyesuaikan diri di tempat-tempat baru.
Bagaimana ?
Anjurkan anak agar berani berlibur di rumah kakek/nenek atau di rumah saudara dekat yang lain sendiri.
Anak biasanya akan merasa senang bertemu dan berlibur bersama saudara sepupu yang sebaya.
Dampingi anak untuk mempersiapkan koper dan perlengkapannya. Berikan uang saku secukupnya.
Tentukan transportasi sesuai dengan dana yang anda anggarkan . Anak akan mendapat pengalaman yang menyenangkan dengan naik turun pesawat terbang, kereta, kapal atau bis.
Anda dapat mengantar anak ke tempat yang dituju dan menjemput dia pada hari yang telah ditentukan.
Anak dapat juga pergi bersama saudara (orang dewasa) yang Anda percaya.
Alternatif lain, Anda dapat mengantarkan anak Anda ke bandara udara dan menitipkan anak anda pada pramugari/pramugara.
Saat pertama anak anda pergi ke luar kota tanpa anda, mungkin ia akan mengalami homesickness atau rasa kangen pada rumah dan keluarga. Teleponlah dia.
Setelah anak terbiasa pergi tanpa orang tua, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengikutsertakan anak di dalam study tour atau program homestay yang di adakan di sekolah atau lembaga-lembaga independen lain. Cek dulu kredibilitas lembaga penyelenggara untuk memastikan keamanan dan kenyamanan peserta selama dalam program.

5.Beri Anak Cara Menghadapi Stress yang Sehat.
Mengapa ?
Ditengarai, generasi muda saat ini mengalami lebih banyak kesulitan emosional. Para pra remaja tak lepas dari rasa gelisah. Tegang, marah dan kecewa.
Orang tua perlu membekali anak dengan kemampuan untuk mengendalikan dan mengolah emosi agar kelak ia tumbuh menjadi pribadi yang, secara emosional, sehat dan mandiri.
Kemandirian emosi ini tampak dalam kemampuannya untuk mengendalikan diri,mengatasi stres, dan mengungkapkan segala bentuk perasaan tanpa kekerasan.
Bagaimana ?
Ajak dia untuk menjaga keseimbangan hidupnya dengan berolahraga. Hal ini akan sangat membantu dia mengatasi kejenuhan atau kebosanan akan tugas-tugas sekolahnya.
Dorong dia untuk mengembangkan hobi atau kegemarannya. Hobi akan membantunya keluar dari rutinitas yang monoton.
Bimbing anak agar tekun beribadah.
Perkenalkan anak pada kebiasaan menulis buku harian, agar ia dapat menumpahkan perasaan atau kesulitannya dengan bebas.

6. Berbicaralah Kepada Anak tentang Berbagai Masalah dan Isu Kenakalan Remaja.
Mengapa ?
Orang tua pada zaman ini dihadapkan pada kekhawatiran akan berbagai macam tindak kejahatan dan kenakalan remaja.
Orang tua perlu mempersenjatai anak-anak dengan kesadaran moral dan agama.
Selanjutnya, orangtua harus mengajak anak membuka mata bahwa di luar rumah yang selalu hangat dan aman terdapat “belantara” yang penuh kekerasan, narkotika, dan obat-obatan terlarang dan memberikan jalan pada mereka untuk menghindarinya.
Bagaimana ?
Luangkan waktu untuk menonton TV, awali pembicaraan dengan obrolan ringan mengenai gaya hidup remaja yang sering kali ditampilkan di layar TV.
Luangkan waktu untuk membaca majalah remaja yang sarat dengan berbagai permasalahan remaja.
Hindari nasihat yang panjang lebar. Satu kalimat yang menyentuh dari ibu atau nasihat ringkas yang berkesan dari ayah akan menggugah kesadaran dan selalu diingat anak.

7. Biarkan Anak Terlibat dalam Organisasi atau Klub yang Bermanfaat.
Mengapa ?
Kegiatan organisasi merupakan proses belajar tanggung jawab nyata dan baik bagi anak.
Menjadi bagian dari suatu tim atau kelompok adalah pengalaman yang sangat baik bagi anak.
Ia akan belajar bagaimana bertanggung jawab pada kelompok dan bagaimana mengembangkan kemampuan individu sekaligus menjaga kekompakan tim. Pengalaman yang baik di masa remaja akan menjadi bekal kelak di masa ia dewasa.
Bagaimana ?
Anak dapat memilih berbagai kegiatan organisasi sesuai dengan minat dan bakatnya, misalnya filateli, klub seni, olahraga, pencinta alam, dan sebagainya.
Diskusikan dengan anak anda, kegiatan apa yang ia inginkan. Ajak ia mengunjungi klub atau melihat kegiatan tersebut sebelum memutuskan.

8. Dorong Anak untuk Mengikuti Olahraga Tim
Mengapa ?
Olahraga tim seperti sepak bola, bola basket, dan sebagainya sangat baik bagi anak usia 12-15 tahun, karena mereka dapat belajar memahami bagaimana peranan individual mereka dapat memberi sumbangan pada kesuksesan seluruh anggota tim.
Selain itu, olahraga akan membantu anak untuk menjaga keseimbangan kegiatan hariannya.
Melalui olahraga pula, anak dapat belajar mengatasi stres dan kejenuhan akibat beban pelajaran sekolah yang mungkin terlalu berat.
Bagaimana ?
Biarkan ia memilih olahraga kelompok yang di sukainya seperti cinta alam, basket atau sepak bola.
Jika ia tidak menyukai olahraga, ia dapat mengikuti kegiatan lain seperti paduan suara.

9. Kemandirian dalam Beribadah
Mengapa ?
Anak pada masa pra remaja menghadapi begitu banyak perubahan fisik dan emosi.
Anak yang tumbuh dengan kedekatan pada Tuhan akan selalu ingat untuk bersandar pada Tuhan saat menghadapi kesulitan.
Bagaimana ?
Lanjutkan kebiasaan berdoa/shalat bersama.
Biasakan pergi untuk ke tempat ibadah bersama keluarga.
Jika anak mulai menemukan teman sebaya yang seiman, beri kesempatan pada anak untuk pergi ke tempat ibadah bersama teman.
Dorong anak untuk mengikuti kegiatan remaja di tempat ibadah. Lingkungan pengajian remaja, dan sejenisnya.
Berilah contoh kepada anak bagaimana mewujudkan peraturan agama dalam hidup.
Fasilitasi anak dengan bacaan populer/majalah mengenai agama yang membantu pemahaman anak akan agama yang di anutnya.

10. Mengelola Uang dengan Baik.
Mengapa ?
Pada masa pra remaja anak memahami status sosio ekonomis orang tua mereka. Mereka juga mempunyai kecenderungan untuk hidup konsumtif.
Orang tua memang wajib untuk memenuhi kebutuhan dasar anak, namun orangtua tidak harus selalu mengabulkan setiap permintaan anak akan barang-barang yang diinginkannya.
Berikan kesempatan pada anak untuk menyisihkan uang, menabung dan merencanakan pengeluarannya.
Dengan demikian mereka menyadari bahwa setiap orang harus bekerja keras untuk mendapatkan uang.
Bagaimana ?
Ajak anak untuk pergi ke bank terdekat.
Ajak dia untuk membuka buku tabungan.
Ajar dia untuk menulis slip setoran atau pengambilan dan menunggu giliran (antri) di loket yang benar.
Ajarkan anak cara untuk melihat rekening.
Pada tahapan usia ini, Anda dapat mengajarkan pada dia “tabungan jangka panjang” dan “tabungan jangka pendek”. Tabungan jangka pendek dapat diambil untuk membeli barang-barang yang diinginkannya, sedangkan tabungan jangka panjang adalah untuk hari depannya.
Berbagi kepada teman anda melalui: